Sejarah Desa Sulangai
<p align="center" style="text-align:center; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><b><span lang="EN-US" style="font-size:14.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">SEJARAH DESA SULANGAI</span></span></b></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Dalam Rangka menyusun rangkaian peristiwa sejarah perlu adanya data pendukung, baik berupa bukti – bukti sejarah, maupun prasasti-prasasti, serta saksi-saksi yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam rangkaian sejarah tersebut. Disamping itu informasi dan fakta sejarah dapat pula diambil dari penuturan atau penyampaian informasi terjadinya suatu rangkaian peristiwa sejarah dari para pelaku sejarah, yang dituturkan secara turun temurun kepada generasi penerus yang kemudian menjadi sesepuh desa.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Minimnya data dan fakta sejarah yang dimiliki di Desa Sulangai, maka penyusunan sejarah Desa Sulangai ini didasari atas penuturan dari sesepuh Desa, yang informasinya didapatkan dari para pelaku sejarah Desa, dan dituturkan secara turun temurun. Tentunya dengan sistem ini mengandung kelemahan, sehingga validitasnya tidak dapat dipastikan oleh karena data pendukung yang terbatas. Untuk itu melalui kesempatan ini dimohonkan kepada semua pihak, untuk dapat membantu dalam penyempurnaan sejarah Desa Sulangai.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"> </p> <p align="center" style="text-align:center; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><b><span style="font-size:14.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">SEJARAH SINGKAT DESA SULANGAI</span></span></b></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Sejarah Desa Sulangai merupakan bagian dari sejarah Desa Petang, yang menjadi satu kesatuan sebagai hasil pemekaran Desa Petang. Desa ini diresmikan pada tanggal 27 Juli 1999 oleh Gubernur Bali, Dewa Made Beratha. </span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Sekitar abad ke-14, I Gusti Ngurah Rai, yang berasal dari Puri Carangsari, dengan izin saudaranya, melakukan pemekaran wilayah ke Pegunungan Carangsari, yang pada saat itu dianggap sebagai hutan belantara. Tujuan pemekaran ke wilayah pegunungan ini semata-mata untuk membangun pertahanan dan membuka lahan pertanian guna mendukung kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Sesampainya di suatu tempat, ia dan rombongan beristirahat (mesandekan), sebuah tempat yang dikenal masyarakat sebagai Sandakan. Setelah beristirahat, ia melanjutkan perjalanan dan merasakan kenyamanan yang luar biasa. Ia diramalkan bahwa tempat itu akan cukup aman dan nyaman, sehingga ia membangun sebuah istana di sana, menamainya Kerta. Setelah itu, I Gusti Ngurah Rai kembali ke Puri Carangsari untuk melaporkan kepada saudaranya bahwa ia telah menemukan tempat yang dianggapnya cukup aman dan nyaman untuk ditinggali dan telah membangun istana, yaitu di Kerta. Saudaranya menjawab, "Apakah pantas bagimu untuk tinggal di tempat itu?" Dengan jawaban singkat namun bermakna ini, I Gusti Ngurah Rai merasa ragu dan akhirnya meminta izin untuk mengulangi perjalanan itu.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Singkat cerita, dia menemukan cahaya di suatu tempat. Ia segera mencari lokasinya, dan cahaya itu ditemukan di sebuah hutan bernama Tegal Gunung (sekarang menjadi pura bernama Pura Pucak Manik). Disana dia bermeditasi lagi, menerima petunjuk bahwa ini adalah tempat yang tepat untuk membangun sebuah kastil. Daerah dimana benteng ini akan dibangun disebut Peteng (Malam), diambil dari kata "Ngepit". Kemudian demi keamanan, dan sebagaimana disebutkan di atas, muncullah banjar yang disebut kawasan Desa Petang, antara lain: Banjar Sandakan, Banjar Sulangai, Banjar Batulantang, Banjar Angantiga, Banjar Munduk Damping, Banjar Lipah, Banjar Kerta, Banjar Avond, Banjar Sekarmukti, Banjar Pundung, Banjar Kasianan, dan Banjar Pangsan.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Berdasarkan kisah-kisah para pendahulu/penglingsir, ada yang mengatakan bahwa nama Sulangai berkaitan dengan Babad Mengwi, khususnya perjalanan raja Mengwi, I Gusti Agung Gede Agung. Dari perjalanan itu, beliau singgah di sebuah daerah di utara Badung, yang disebut Puncak Mangu, yang sekarang menjadi tempat suci Pura Luhur Puncak Mangu (Pura Kahyangan Jagat). Dalam perjalanan kembali ke Mengwi, mereka menjumpai banyak munduk, termasuk Munduk Semanik, Auman, Munduk Tiying, Batulantang, dan Munduk Abing, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah munduk yang seperti hutan belantara yang ditumbuhi pepohonan lebat. Raja dan pasukannya, yang tersesat dan tidak dapat menemukan jalan keluar dari munduk tersebut, tersesat. Kemudian mereka melihat matahari muncul di tenggara, sehingga mereka menamai daerah itu "sirang ai." yang lambat laun menamai masyarakat tersebut Sulangai, hingga kini dikenal sebagai Desa Sulangai.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Sementara itu, seorang budayawan dan dosen di sebuah universitas di Bali, A.A. Gede Raka, mencoba menjelaskan arti kata Sulangai dalam sebuah artikel. Ia melakukannya dengan mengamati posisi desa yang membentang dari hulu ke hilir, pada posisi yang tidak lurus utara-selatan, atau "menyirang". Untuk menentukan posisi desa, ia tentu mengamati saat matahari tepat berada di pusat sumbu Bumi (timur-barat), tepatnya pada bulan Oktober dan April. Bagian hulu-hilir desa seharusnya berada di utara-selatan. Namun, yang terlihat di lapangan adalah matahari tidak dari timur ke barat. Hal ini menunjukkan bahwa posisi desa yang "menyerang" tersebut berlawanan arah dengan pergerakan matahari. Karena posisi desa tersebut berpotongan dengan arah matahari, maka disebut "Silang Ai" (silang = menyerang dan ai = matahari). Dari kata "Silang Ai", seiring waktu, karena salah eja, menjadi Sulang Ai. Demikian pula dalam hal penulisan, yang seharusnya ditulis Sulang Ai menjadi Sulangai. Jelas bahwa nama Desa Sulangai berasal dari posisi desa yang berpotongan dengan arah matahari (nyilang ai). Oleh karena itu, Silangai, karena salah eja, menjadi Sulangai.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Untuk memahami sejarah desa ini, pertimbangkan tidak hanya nama pura, tetapi juga warisannya, bangunan falus, dan arca Nandi di dalamnya. Berdasarkan ketiga aspek ini, kami akan mencoba menggambarkan kapan pura ini dibangun dan tokoh di balik pendiriannya. Berbicara tentang <i>Pura Kancing Gumi</i> mengingatkan kita pada situs suci lain yang namanya berkaitan erat secara filosofis, yaitu Pura Kentel Gumi (Banjarangkan-Klungkung) dan Pura Pusering Jagat (Pejeng-Gianyar). Kedua pura ini berstatus Kahyangan Jagat, yang secara tradisional diyakini didirikan oleh Empu Kuturan, yang menjabat sebagai pendeta istana pada masa pemerintahan Udayana di Bali (A.A. Gede Raka dan Tjokorde Artha Ardana Sukawati, 2020). Udayana memerintah Bali pada abad ke-11 Masehi. </span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Hal tersebut diperkuat dengan warisan yang berupa Lingga dan arca Nandi yang ada dalam pura. Tradisi pemujaan lingga di Bali berkembang pada abad 11 Masehi, ada salah satu sekte yang berkembang saat itu yang memuja lingga, yaitu Sekte Siwa Pasupata (Goris, 1974). Serta arca Nandi merupakan simbol kendaraan dari Dewa Siwa. Hal itu menandakan bahwa pada abad 11 Masehi di Sulangai sudah ada masyarakat yang memuja Siwa Lingga. Dari paparan di atas, bahwa pada abad 11 Masehi di Sulangai sudah berkembang Agama Ciwa (Hindu) dengan memuja Lingga, bertepatan dengan pemeritahan Raja Udayana yang didampingi oleh Empu Kuturan sebagai <i>purohita</i> (pendeta istana).</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Kekhasan (keunikan) Desa Sulangai tampak pada posisi desa yang menampakkan kesan sangat tua, yaitu setua tempat suci yang ada di hulu desa. Keberadaan pura tidak dapat dipisahkan satu sama lain dengan warga masyarakat pengampu dan penyungsung pura. Berdasarkan pengamatan terhadap posisi palemahannya, bahwa warga yang bermukim di depan pura tersebutlah awalnya sebagai pengampu dan penyungsung pura sebagai warisan dari para leluhurnya.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Bila diamati secara seksama, bahwa situasi desa serupa dengan Desa Penglipuran. <i>Pura Kancing Gumi</i> sebagai kahyangan masyarakat setempat berada di hulu (<i>ulun desa</i>), dan di depan jalan desa yang pada bagian sebelah kanan dan kiri jalan berjajar rumah-rumah penduduk berhadap-hadapan satu dengan yang lain. Kemudian pada posisi hilir (<i>teben</i>) terdapat kuburan (<i>setra</i>). Kondisi seperti ini merujuk kepada konsep <i>tri angga</i>, yang membagi wilayah menjadi tiga: kaki (hilir), badan (tengah), dan kepala (hulu).</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Berdasarkan peninggalan yang terdapat di Pura Kahyangan Jagat dan Pura Dang Kahyangan di Desa Sulangai, hal ini menunjukkan bahwa desa tersebut sudah tua. Situs tersebut telah dihuni oleh leluhur masyarakat yang saat ini tinggal di Desa Sulangai setidaknya sejak abad ke-11 Masehi. Kesan Desa Sulangai sebagai desa tua tercermin dalam struktur desanya yang menggunakan konsep tri angga, yang membagi ruang menjadi tiga: Hulu (Kepala), tengah (badan), dan hilir (kaki). Setiap zona dilengkapi dengan unsur-unsur: tempat suci di zona hulu (hulu/gunung), zona tengah (badan/pemukiman), dan zona hilir (kaki/pemakaman).</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"> </span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><b><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Secara administratif, </span></span></b><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">untuk memberikan pelayanan agar lebih efektif dan efisien dengan memperhatikan wilayah yang cukup luas maka pada tahun 1997 diadakan pemekaran dimana Desa Petang dimekarkan menjadi 3 ( tiga ) Desa  Dinas yaitu:</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"> </span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">1.       Desa Sulangai dengan mewilayahi 6 Banjar Dinas, dan hingga saat ini sudah menjadi 7 Banjar Dinas.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">2.       Desa Petang dengan mewilayahi 6 Banjar Dinas.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">3.       Desa Pangsan dengan mewilayahi 4 Banjar Dinas.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"> </span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><b><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Adapun yang pernah memimpin Petang dari baru adanya Petang sampai saat ini adalah sebagai berikut:</span></span></b></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"> </span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">1.       I Gusti Ngurah Rai</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">2.       I Gusti Ngurah Alit pada jaman Bali.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">3.       I Gusti Ngurah Raka pada jaman India Belanda.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">4.       I Gusti Ngurah Puger, Pada Jaman Belanda sampai tahun 1962.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">5.       I Gusti Ngurah Japa, dari tahun 1962 s / d tahun 1976.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">6.       I Gusti Made Wana, Sebagai pejabat dari tahun 1976 s / d tahun 1978</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">7.       I Gusti Ngurah Sandiartha dari tahun 1978 s / d tahun 1991 mulainya demokrasi yaitu dengan pemilihan langsung oleh masyarakat.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">8.       I Gusti Made Wana sebagai pejabat dari tahun 1991 s / d 1993.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">9.       I Gusti Ngurah Suryajaya dari tahun 1993 s / d  bulan Oktober  tahun 2009</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">10.    I Wayan  Suryantara SH dari bulan  Oktober 2009 sampai  sekarang, melalui pemilihan langsung masyarakat.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"> </span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><b><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">Sementara pemimpin Sulangai dari masa persiapan antara lain:</span></span></b></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"> </span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">1.       I Made Wijana, dari tahun 1998-2000</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">2.       I Nyoman Widiada, dari tahun 2000-2008</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">3.       I Gede Darmawan, dari tahun 2008-2013</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">4.       I Nyoman Widiada, dari tahun 2014-2020</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Arial",sans-serif">5.       I Nyoman Sunarta, dari tahun 2021 s.d. sekarang</span></span></span></span></p>
25 May 2021